Geopolitik dan Peradaban di Kota Subulussalam: Ceramah Prof Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad
Oleh Ramli Cibro dan Ismail Angkat
Peradaban suatu komunitas tidak hilang karena bangunan fisik yang rusak, tapi ketika masyarakat sekitar kehilangan hubungan imajinatif dengan masa lalunya. Sejarah yang tidak terawat sering kali dimulai dari hilangnya nilai dari situs dan museum. Alih-alih sebagai ruang refleksi, kehadiran situs dan museum sering berubah menjadi sekedar ruang ekonomi wisata. Tempat orang-orang jualan aksesoris dan kaos, pop mie dan bakso dan juga jasa warung kopi serta tukang parkir. Ingatan sejarah memudar, memori kolektif hilang, cerita yang diturunkan dari mulut ke mulut (oral history) semakin pendek dan dibumbui fantasi belaka. Semakin tidak masuk akal.
Revitalisasi situs-situs sejarah-pun harus berakhir jadi semacam proyek tanpa rekomendasi. Dibongkar dan dibangun ulang tanpa pendampingan ahli sejarah; digubah dan diubah sehingga kehilangan nilai dan semakin mengaburkan jejak asli dari sang sejarah. Dan saat situs sejarah dimonumenkan, ke-buktian-nya semakin tenggelam dan hilang. Dan yang tersisa hanya wahana wisata, sedikit spiritual, namun tanpa data dan gebrakan pengetahuan yang memadai.
Dalam sejarah pesisir Pulau Sumatera, Barus Raya menjadi salah satu episterium yang cukup diperhitungkan. Tempat bertemu ragam pedagang dan kaum pendakwah dari Arab, Persia dan India. Barus juga dikenal sebagai penghasil kapur barus yang melegenda. Dalam sejarah Pulau Sumatera maka Barus berdiri bersama Minangkabau dan Aceh. Dan yang paling menarik saat ini, bahwa sebuah kota bernama Subulussalam, berdiri diantara ketiga episterium kebudayaan islami tersebut.
Ada satu kesan yang cukup kuat ketika mendengarkan ceramah Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad dalam Seminar Filologi Nasional Turats Syekh Hamzah Fansuri: Budaya, Karya dan Karsa di Kota Subulussalam pada 17 April 2025. Sebuah acara yang digagas oleh Institute for Singkel Research on Adat and Culture (ISRAC) dengan dukungan dari Dana Indonesiana. Seminar menghadirkan dua pemateri nasional, yaitu Profesor Oman Fathurrahman dan Profesor Kamaruzzaman Bustamam – Ahmad.
Pada kesempatan tersebut, Kamaruzzaman tidak hanya berbicara mengenai sejarah Syekh Hamzah Fansuri, tapi juga tentang sesuatu yang lebih luas dan diam-diam menjadi misi dari kegiatan ini. Jika tujuan ISRAC menyelenggarakan kegiatan adalah untuk merumuskan satu model rekayasa budaya untuk membangkitkan visi, ethic, value dan spirit Syekh Hamzah; Maka pemaparan Kamaruzzaman justru menukik pada potensi geopolitik yang tersimpan di dalam Kota Subulussalam sendiri. Bagaimana sebuah wilayah menyimpan jejak peradaban signifikan, dan bagaimana generasi setelah itu mengoptimalkannya?
Kamaruzzaman dalam ceramahnya yang berjudul “Hamzah Fansuri, Geopolitik, dan Subulussalam,” menjelaskan bahwa Kota Subulussalam dan Singkil secara historis menjadi kawasan penting pada masanya.
Kawasan Subulussalam-Singkil dulunya terhubung dengan dengan Barus, Minang dan Aceh. Bukti sejarah mungkin tidak lagi banyak ditemukan; dan hal ini bukanlah perkara aneh. Di seantero peradaban Nusantara pasca-kolonial, situs-situs sejarah yang belum sempat runtuh, telah berubah menjadi lokasi wisata semata. Situs dan historiografi, telah jauh dari kesadaran masyarakat tempatan. Seperti makam para raja di Aceh, alih-alih menjadi device instalasi spirit kebudayaan, malah hanya menjadi tempat makan bakso, pop mie dan minum kopi.
Gunung, Sungai dan Tanah
Menurut Kamaruzzaman, potensi geopolitik suatu daerah dapat dilihat dari tiga elemen geologi yaitu gunung, sungai dan laut. Jika satu daerah memiliki ketiganya sekaligus, biasanya disana ada potensi peradaban yang besar. Gunung memiliki fungsi sebagai source (sumber daya) sekaligus benteng alam yang menjaga komunitas dari serangan pihak lain. Ia juga menjadi lokasi bertapa sang tuan, untuk mendapat ilham meditatif-nya. Sungai adalah jalur penghubung antar sub wilayah, menghubungkan jejaring ekonomi, administratif dan militer. Sedangkan laut adalah medium interaksi yang lebih luas. Laut memiliki fungsi kosmopolitan, dimana satu entitas budaya bersentuhan dengan subjek yang lebih beragam.
Menurutnya, Subulussalam di 30 tahun kedepan akan menjadi wilayah penting di kawasan; melalui pengembangan budaya dan peradaban. Jika energi alam menghendaki satu wilayah menerima spirit, maka disana akan dihadirkan individu-individu yang dapat menyerap kekuatan tersebut. Para ulama semisal Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf Singkel, adalah individu-individu pada zamannya yang mampu mencerap energi alam yang dipancarkan ke kawasan kebudayaan Barus, Aceh dan Singkil.
Saat inipun Kota Subulussalam juga menjadi penghubung 2 provinsi dan 6 kabupaten kota. Manusia dari berbagai kultur hadir dan memberi warna pluralitas di daerah ini. Secara kosmologi, Subulussalam menjadi penyangga (buffer city) bagi wilayah yang teramat luas. Dari utara terhubung dengan Gayo, Alas, Bireun dan Pasai; dari Barat sampai ke Calang bahkan Kuta Raja; dari Timur ke Tanah Batak, Barus, Sibolga dan Minang; dan dari Selatan ke Singkil hingga Pulau Banyak.
Dan seperti dugaan Kamaruzzaman, ada semacam tarikan energi yang membawa kembali spirit Syekh Hamzah Fansuri di kota ini. Kegiatan yang digagas ISRAC bukan berdiri di ruang kosong, begitupun kehadiran Oman Fathurrahman, seorang filolog pengkaji Syekh Abdurrauf Singkel juga tidak bisa dimaknai secara kebetulan.
Secara kosmologi, berbagai peristiwa pendahuluan tadi tidak bisa dianggap biasa. Belum lagi kehadiran beberapa peneliti baik lokal maupun non-lokal yang menumbuhkan minat kajian atas episterium Singkil-Subulussalam, menunjukkan energi tersebut sedang bekerja untuk menumbuhkan kembali jejak peradaban di wilayah ini.
Energi yang dimaksud oleh Kamaruzzaman selain difahami secara kosmologi-metafisik, juga harus diterjemahkan sebagai metafora momentum intelektual. Para peneliti secara besama-sama kembali membaca manuskrip, sejarah sosial dan data Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Abdurrauf, Subulussalam-Singkel dan kawasan Barus Raya. Fakta ini menunjukkan adanya keinginan bersama untuk menghidupkan kembali ingatan peradaban di kawasan tersebut.
Masyarakat Kota Subulussalam tentu harus menyambut tarikan spirit yang kali ini bekerja dari ruang akademik. Hamzah Fansuri harus dikaji dan digali secara lebih mendalam dan rekonstruktif. Para peneliti dan anak-anak muda harus mampu menerjemahkan visi, ethic, value dan spirit Syekh Hamzah Fansuri sebagai grand design pembangunan peradaban di Kota Subulussalam.
Baginya, Subulussalam dapat menjadi laboratorium kebudayaan yang membincangkan ethic, visi dan orientasi, seni dan diskusi, dan lain sebagainya. Untuk itu pemuda Kota Subulussalam harus berani untuk mulai merumuskan sistem dengan memetakan modal tempatan seperti disebutkan sebelumnya. Projek kebudayaan ini bisa dimulai dari pengembangan ensiklopedi Alam Budaya Singkil seperti projek Acehnologi yang pernah dikembangkan di Kota Banda Aceh. Dan ISRAC memiliki peluang untuk mengambil kesempatan.
Artikel ini merupakan bagian dari buku Belajar Tasawuf dari Ulama Aceh ke Budaya Nusantra diterbitkan oleh ISRAC bekerjasama dengan Zahir Publishing Tahun 2026
Share this content:



Post Comment